Minggu, 22 Agustus 2021

Kepada Siapa Aku Berharap?

 Kepada Siapa Aku Berharap?

 

Saudari-saudara terkasih, saya merasa tertarik untuk merenungkan ketidaktahuan atas pengalaman yang dialami. Saya mengajak kita bersama untuk melihat bahwa kita memiliki karakter, pengetahuan, perasaan, dll, yang berbeda, satu dengan yang lain. Karena itu, kita akan memberikan tanggapan atau respon yang berbeda pula terhadap setiap peristiwa yang terjadi.

Kita sekarang mengalami pandemi covid-19. Covid-19 memberikan efek atau dampak yang berbeda-beda terhadap kita. Mungkin ada yang terdampak sampai kehilangan anggota keluarga, mungkin juga ada yang menutup usahanya atau mungkin pula ada yang mengalami ketakutan berlebih sehingga membuat kita  akhirnya kecewa, putus asa dengan pengalaman yang kita alami. Terlebih lagi, doa-doa kita rasanya tidak didengarkan, diabaikan oleh-Nya begitu saja. Di sinilah, kita bisa saja mencari cara-cara instan, tidak lagi percaya kepada-Nya dan pergi meninggalkan Allah.

Bacaan injil (Yoh 6: 60-69) kali ini memberikan inspirasi kepada kita untuk setia dan percaya kepada-Nya meskipun banyak pengalaman yang tidak dapat kita ketahui atau pahami. Kita dapat belajar dari para murid. Para murid dalam banyak pengalaman tidak mengerti dan memahami apa yang terjadi dalam hidup mereka, terlebih lagi akan ajaran yang diberikan oleh Yesus. Namun para murid tetap setia dan percaya kepada Yesus, yang diwakili oleh Petur yang berkata “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkaulah yang kudus dari Allah”.

Kita dapat belajar dari para murid bahwa ketidaktahuan atas pengalaman dan ajaran Yesus bukan menjadi penghalang untuk kita tetap percaya kepada-Nya. Hanya saja, maukah kita tetap membuka hati dan pikiran kita agar kita dapat menerima anugrah panggilan agar tetap setia kepada-Nya?

Minggu, 27 September 2020

Misdinar

 Misdinar

Mungkin adik-adik, atau teman-teman di luar sana (bukan beragama katolik) tidak mengerti apa itu misdinar dan apa tugasnya? Lalu bedanya apa misdinar dan dengan akolit? Adakah syarat atau ketentuan siapa saja yang boleh menjadi misdinar? Apakah misdinar perlu dilantik? Semangat apa yang perlu dimiliki oleh para misdinar? Semua pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab satu persatu dalam tulisan sederhana dan singkat ini.

    Misdinar dan Tugasnya

Dalam perayaan ekaristi atau misa sering dilihat anak-anak yang kurang lebih masih sekolah SD-SMA menggunakan pakaian khusus. Anak-anak ini berjalan di depan pemimpin perayaan ekaristi, entah itu romo atau uskup. Mereka inilah yang disebut misdinar atau putra-putri altar. Misdinar merupakan kata yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa jerman, misdinar adalah messdiener yang berarti pelayan perayaan ekaristi. Kalau dalam bahasa inggris yang sering digunakan adalah altar servers atau pelayan altar.

Misdinar ada yang laki-laki ada juga yang perempuan, sehingga dalam bahasa inggris ini lebih sering dikatakan sebagai boys and grils to service at the altar. Hal yang perlu diperhatikan adalah kata server atau service yang dipahami sebagai pelayan. Jadi dilihat dari arti katanya, misdinar merupaka seorang pelayan. Dalam hal ini, meraka adalah pelayan misa kudus. Akan tetapi pada prakteknya, misdinar tidak hanya bertugas saat misa. Misdinar juga dapat bertugas dalam kegiatan liturgy dan ibadat lainnya.

Sebagai misdinar, anak-anak perlu menyadari tugasnya. Tugas yang diemban atau diterima sebagai misdinar ini merupakan tugas istimewa dan mulia. Hal itu karena dalam perayaan liturgy gereja, selalu menuntut adanya keterlibatan atau partisipasi dari umat. Partisipasi umat ini penting karena dengan partisipasi umat dengan sadar, penuh dan aktif membuat tidak adanya one man show, karena Gereja memang tidak pernah menghendaki one man show dalam liturgy gereja. Anak-anak dalam hal ini menjalankan amanat Gereja yakni ikut berpartisipasi dalam kegiatan liturgy Gereja. Maka jelas, misdinar bukan hanya untuk rame-rame tetapi bentuk keterlibatan dalam kegiatan liturgy Gereja. Untuk itu, anak-anak sangat baik untuk ikut menjadi misdinar.

Tetapi perlu dipahami juga bahwa misdinar bukanlah pelayan’ dari romo. Memang misdinar melayani romo yang memimpin misa, namun dalam perayaan ekaristi atau misa, romo bertindak sebagai pemimpin ibadat. Lepas dari tugas itu, anak-anak bukanlah pelayan romo secara prbadi. Ini yang hendak ditegaskan, bahwa misdinar bukan pelan romo. Misdinar adalah pelayan Tuhan sebab dalam perayaan ekaristi, Yesus Kristus sendiri yang hadir. Kehadirannya dalam rupa roti dan anggur yang diterima oleh umat atau jemaat sebagai komuni suci.


Akolit

Akolit berasal dari kata Yunani yakni akoluthos yang berarti pelayan atau murid. Akolit ini untuk menyebut para frater yang telah dilantik. Pelantikan akolit untuk frater merupakan sebuah proses untuk menjadi seorang imam. Dalam prosesnya itu, frater tidak hanya dilantik sebagai akolit tetapi juga lector. Pelantikan frater sebagai akolit dan lector ini yang nantinya dapat menjadi misdinar untuk melayani Paus saat perayaan ekaristi.

Dalam sejarahnya, sebelum Konsili Vatikan II, tugas dar akolit termasuk tugas dalam pelayanan yang diterimakan dengan tahbisan rendah. Tetapi sejak tahun 1972, Paus Paulus IV meniadakan tahbisan rendah. Tahbisan rendah diganti dengan pelantikan untuk lector dan akolit[1] untuk para frater. Hingga menjadi salah satu tahap bahwa sebelum daikon dan imam, frater harus dilantik terlebih dahulu sebagai lector dan akolit. 

Inilah yang membedakan misdinar dan akolit, meski sama-sama pelayan Tuhan tetapi akolit merupakan frater (calon imam) yang sedang mempersiapkan diri menjadi imam.

Syarat menjadi Misdinar

Dari pengertian yang sudah dijelaskan tadi, setidaknya dapat memberi gambaran tentang misdinar. Untuk syarat atau ketentuan siapa yang boleh menjadi misdinar, sebenarnya tidak ada kriteria yang sangat khusus. Meski begitu, anak-anak yang boleh menjadi misdinar adalah anak-anak yang sudah dibaptis dan telah menerima komuni pertama. Biasanya, anak-anak telah dibaptis sejak masih kecil. Anak-anak yang menerima komuni pertama adalah kisaran kelas IV SD. Dari situ, anak-anak yang sudah boleh menjadi misdinar adalah anak-anak yang telah berusia 9 atau 10 tahun sampai 17 atau 18 tahun (lulus SMA). Dalam situasi khusus, ada misdinar yang telah lebih dari usia SMA. Kejadian seperti Ini tentunya menimbang situasi dan kondisi tempat pastoral.

Laki-laki dan perempuan semua boleh menjadi misdinar, tidak dilarang. Hal itu dinyatakan oleh Tahta Suci Vatikan tahun 2001, yang memberikan wewenang bagi para uskup untuk memberikan izin bahwa perempuan boleh menjadi misdinar. Meski begitu, perlu dipertahankan misdinar laki-laki dalam rangka panggilan imamat.

Nah sudah jelaskan, siapa yang boleh menjadi misdinar dan apa syarat-syarat menjadi misdinar. Yuk, adik-adik; laki-laki maupun perempuan, beragama katolik, sudah dibaptis dan sudah menerima komuni pertama, bergabung dengan misdinar yang ada di paroki masing-masing. Adik-adik memiliki peran untuk berpartisi atau ikut serta dalam kegiatan Gereja.

Misdinar perlu dilantik?

Karena adik-adik akan bertugas atau memiliki peran dalam kegiatan Gereja, adik-adik perlu dipersiapkan terlebih dahulu dengan adanya pertemuan. Pertemuan ini menjadi sarana mengarahkan dan melatih para calon misdinar. Setelah selesai pelatihan, dimungkinkan adanya rekoleksi[2] sehari atau dua hari. Masalah misdinar perlu dilantik atau tidak, dapat dibicarakan dengan pastor paroki terkait.

Di sarankan, para calon misdinar sebaiknya dilantik. Pelantikan dilaksanakan dalam perayaan liturgy Gereja. Pelantikan sebaiknya dilakukan setelah homily. Sebaiknya, pelantikan dipimpin oleh pastor paroki. Inti upacara pelantikan dapat berupa pemanggilan calon, doa berkat dari imam dan sebagai simboli ada penyerahan pakaian misdinar kepada calon misdinar. Pakaian misdinar yang telah diserahkan kepada calon misdinar tetap ditinggal di Gereja, tidak perlu dibawa pulang sebagai milik pribadi.

 

Semangat atau Spritual para Misdinar

Adik-adik yang telah dilantik, kini resmi ikut ambil bagian dalam tugas Gereja. Sebagai misdinar, adik-adik perlu tahu tanggungjawabnya sebagai pelayan. Tidak perlulah berpikiran negative pelayan itu babu atau jongos. Pelayan dalam Gereja memiliki arti melayani Tuhan. Misdinar juga berarti pelayan Tuhan. Pelayan Tuhan itu perlu memiliki hidup sesuai dengan sabda Tuhan, karena itu misdinar perlu juga membaca Kitab Suci, rajin ikut perayaan ekaristi (entah tugas atau tidak), rajin mengaku dosa dan jika waktunya ada baiklah menerima Sakramen Krisma yang diberikan oleh Uskup atau wakilnya. Tanggungjawab itu yang perlu menjadi kesadaran adik-adik.

 

Sumber:

E. Martasudjita, Pr., Panduan Misdinar, Yogyakarta: Kanisius, 2014.

 



[1] Untuk memahami lebih lanjut tentang Akolit silahkan baca tulisan berjudul lector dan akolit.

[2] Rekoleksi berasal dari kata re yang berarti kembali lagi dan collection yang berarti koleksi, kumpulan. Rekoleksi dapat diartikan sebagai mengumpulkan kembali pengalaman yang telah dialami.

Lektor Akolit

 LEKTOR AKOLIT

Kita, orang-orang katolik, tidak asing dengan istilah lector akolit, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang tidak tahu, sama seperti orang lain yang berbeda agama. Hal itu tidak mengapa, kita sama-sama belajar untuk mengenal dan memahami bersama apa itu lector akolit, apa tugasnya, apakah ada sejarahnya? Dari penjelasan itu, kita akan mengetahui mengapa sampai sekarang lector akolit masih ada. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan sederhana ini memberi inspirasi untuk menjadi pembelajaran bersama.

Lektor

Lektor merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yakni lector berarti pembaca. Istilah ini mengarah pada tugas khusus dalam liturgi Gereja Katolik yang membacakan secara lantang Firman Tuhan yang ada dalam Buku Bacaan (lektionarium) ataupun kitab suci. Pembacaan dilakukan dari mimbar sabda. Hal itu dilakukan agar dapat didengarkan dengan baik sehingga seluruh umat yang hadir dapat dengan mudah memahami perayaan liturgy yang sedang dirayakan.

Sejarah

Berbicara tentang sejarah lektor ini sudah ada sejak lama sekali bahwkan sejak Perjanjian Lama. Dalam perjanjian lama, para lektor membacakan sabda Tuhan di sinagoga. Para lektor membacakan sabda tuhan yang diambil dari kitab taurat dan para nabi. Lektor berada di tengah umat dan membuka gulungan Kitab Suci dengan membacakannya dengan lantang. Setelah selesai, lektor memberikan penjelasan singkat tentang isi bacaan atau apa yang baru saja dibacakan.

Kebiasaan membaca Kitab Suci dalam tradisi Kristen sudah ada sejak Gereja Perdana, zaman para rasul. Namun terjadi perubahan memasuki abad ke-2, kebiasaan membaca Firman Tuhan menjadi kebiasaan khusus bagi kaum klerus yakni mereka yang ditahbiskan; uskup, imam dan diakon. Pada abad ke-5 kebiasaan ini hilang. Muncul kembali dan mulai dipakai oleh anak muda yang tinggal di asrama uskup. Mereka mendapat pendidikan khusus dan belajar membaca. Mereka yang belajar membaca firman Tuhan disebut dengan kelompok  Schola Lectorum. Pada abad ke-6 dan 7, anak muda dari kelas Schola Lectorum mulai belajar secara khusus pengetahuan dan ketrampilan music dan nyanyian sehingga pendidikannya di sebut Schola Cantorum. Maka tugas membaca bukan lagi kewajiban bagi mereka. Mereka yang memiliki kewajiban membaca adalaah subdiakon ataun daikon dalam perayaan meriah.

Sekarang memasuki zaman modern, zaman pasca konsili fatikan II yang telah memberikan pembaruan. Dalam Ministeria Quaedam, lekrot sebagai pembaca firman Tuhan merupakan satu jenjang tersendiri. Mereka harus dilantik sebagai lector sebelum mereka menerima tahbisan daikon dan imam.

Tugas lector

Membaca bagian sejarah, menjadi jelas apa tugas lector sebenarnya yakni membacakan Firman Tuhan untuk umat yang hadir dalam perayaan Liturgy Gereja. Tetapi lebih dari itu, pemcasaan firman Tuhan mengajak suatu keterlibatan dalam seluruh karya Roh Kudus untuk membuka hati seluruh umat terhadap firman itu. Selain membacakan, pemberian penjelasan secara singkat isi dari yang dibacakan, sekarang dapat dipahami sebagai homily singkat. Pemberian penjelasan Firman Tuhan ini harus bergaung dan memperbaharui sehingga memberi manfaat; pertobatan atau keterbukaan hati, yang mengantarkan orang pada keselamatan yang Allah janjikan.

 

Akolit

Secara etimologi (akar katanya), akolit berasal dari kata Yunani yakni akoluthein yang memiliki arti mengikuti. Dalam konteks liturgy, akolot selalu dekat denganpemimpin liturgy dan bertugas membantu pemimpin liturgy dalam perayaan. Awalnya, akolit memiliki tugas untuk membantu daikon dalam perayaan liturgy. Pada saat Gereja berkembang pesat, para akolit, sebagai pelayan khusus dalam liturgy, mulai melaksanakan tugas-tugas tertentu yang secara tradisional menjadi tugas diakon.

 

Tugas dan sejarah

Tugas akolit diperkirakan munucl pada zaman Pus Victor I (189-199). Paus Cornelius pada tahun 251 menyebutkan jumlah akolit yang ada ditujuh wilayah Roma ada 42 akolit. Santo Cyprianus pernah mengungkapkan bahwa kelompok ini berada di Afrika Utara. Tugas mereka terbatas pada membawa lilin bila injil dibacakan dan membantu pada saat korban dipersembahkan. Mereka adalah pelayan pribadi uskup.

Akolit ini baru dikenal luas di Gereja Barat (Roma) sesudah abad ke-9. Sejak abad ke-10, tugas pelayanan ini diperkenalkan secara bertahap sebagai salah satu dari empat tugas pelayanan liturgy yang sifatnya membantu imam.  Ketiga tugas lainnya adalah penjaga pintu, lektor, dan pengusir setan (Exorcist). Konsili Trente (1545-1563) juga membahas tugas dari akolit sebagai jawaban terhadap Protestantisme yang menolak sakramen imamat.

Tugas-tugas akolit beragam, tetapi tugas pertamanya adalah mengurusi karya karitatif. Di Roma, akolit sering memperoleh peran khusus dalam peryaan Ekaristi. Akolit mendapat kepercayaan untuk menerima bagian Fermentum yaitu mengambil pecahan hosti kudus yang telah dikonsekrasi dan dibagi-bagi oleh Uskup atau Sri Paus. Mereka membawa Fermentum itu ke gereja-gereja stasi di kota itu dan memberikannya kepada imam yang sedang memimpin ekaristi agar dimasukkan ke dalam piala dan campur dengan anggur kudus. Hal itu dilakukan sebagai tanda persatuan persaudaraan di antara Paus dan umat beriman serta para imam di seluruh kita. Akolit juga dapat mendampingi Paus untuk membawa sakramen krisma atau penguatan, dan kadang-kadang, jika jumlah katekumenatnya banyak, mereka diizinkan untuk melayani sakramen pembaptisan bersama dengan imam dan dikon.

Akolit awalnya memang hanya melaksanakan tugas seperti yang sudah dituliskan dalam paragraph sebelumnya. Ritus pelantikan (dalam Pontifikale Romawi) sebenarnya berasal dari ritus Gealik awal abad ke-6. Ritus ini terdiri dari pelantikan pengusiran setan dan pendoa. Calon yang membawa tangkai lilin dengan lilin yang tidak bernyala dan kantong anggur kosong, symbol pelayanan. Menurut ritus ini, tugas akolit adalah menyalakan dan membawa lilin untuk persembahan dan meyiapkan air dan anggur untuk persembahan korban. Sekarang tugas ini umunya dilakukan oleh koster.

Di zaman modern, pelantikan Akolit tidak lagi fungsional seperti dahulu kecuali sebagai ritus persiapan untuk pentahbisan. Konsili Trente memiliki harapan bahwa perlunya dihidupkan lagi pelayanan pastoral akolit. Harapan konsili ini tidak tercapai. Namun gerekan liturgy modern telah mengemukakan beberapa usulan konkret untuk menyesuaikan tugas fungsional liturgis dari Akolit dengan kebutuhan pastoral. Kini yang bertahan adalah upacara pelantikan Akolit sebagai satu tahap menjelang tahbisan diakon dan imam.

Sekarang sudah sedikit mengerti lector dan akolit setelah membaca tulisan ini. Semoga tulisan ini menambah wawasan dan pemahaman kita bersama sehingga jika ada pemahaman yang keliru dapat diarahkan kembali ke jalan yang seharusnya.


Sumber:

Cinta Kasih Pastoral, bahan untuk rekoleksi persiapan pelantikan lektor Akolit bersama Romo Mateus Joko Setyo Pr.

Sabtu, 02 Mei 2020

Imitatio


Imitatio
            Mendengarkan orang membacakan sabda, sontak muncul kata imitatio dalam pikiran. Saya jadi penasaran mengapa kata ini muncul begitu saja. Saya cari tahu kata itu apa artinya; Mbah google dan bertanya pada teman. Imitatio yang ada dalam pikiran adalah kopian/tiruan, meniru. Kata Mbah google, imitatio berasal dari bahasa latin yang terjemahan harafiahnya peniruan. Arti-arti itu rasanya belum mewakili apa yang muncul dalam benak saya. Kata teman saya, Imitatio dapat diterjemahkan dalam Bahasa Jawa napak pada Dalem Sang Kristus, mengikuti Jejak Sang Kristus. Rasanya pengertian ini memberikan kelegaan dalam diri saya.
            Pertanyaan itu sebenarnya mengisyaratkan adanya relasi. Mbah google memang pintar tahu apa saja tapi saya tidak punya relasi dengannya sehingga dia tidak tahu apa yang saya inginkan. Senang rasanya, teman saya tahu, paham dan mengerti apa yang sedang saya tanyakan. Yesus dalam bacaan hari ini mengajarkan pada saya tentang kedekatan, relasi (Yoh. 10: 14). Relasi yang terbangun karena tahu, paham dan mengerti apa yang dilakukan oleh orang lain. Dari situ, Saya mengajak anda sekalian merenungkan pertanyaan; apakah saya, anda sudah membangun kedekatan, relasi dengan teman, saudara, keluarga bahkan dengan Allah?

Rabu, 14 September 2016

Keraguan


              Keraguan


burung lepas terbang melayang

hinggap lelap di atas awan

awan hilang tersapu angin

tangkap hilang burung melayang

tak sadar diri mulai menghilang

layang-layang putus di atas awan

diterpa angin tak tertahan

jatuh tak henti siapa mendapat

mata tertuju pada pandangan

kaki kaku tak mampu menuju

hati pilu mata membiru

kepala merunduk hati tersedu

oh layang-layangku

siapakah pemilikmu

haruskah kucari dirimu

ataukah membuat yang baru

proses membutuhkan waktu

dalam hati tak mampu menunggu.
PURWOKERTO, 20 Mei 2016

Senin, 12 September 2016

Gelisah

GELISAH

Surya lenyap ditelan bumi
Hewan berbisik tiada pasti
Awan mendung tak pernah mau mengerti
Sorak-sorai dunia tak memiliki arti
         Hujan turun sayup redam
         Hati terusik tak bisa dipendam
         Keheningan sepi terasa menghujam
         Ingin lepas terasa tertikam
Pena tulis tak mau berhenti
Syair puisi terungkap hati
Walau gelisah terus menghampiri
Ingin ku tuwai hasil yang pasti
      Takut, cemas kian melanda
      Karya tangan cindera mata
      Tangis senang tak terkira
      Budi luhur di dalam surga
 Baturaden, 25 Mei 2016

Kepada Siapa Aku Berharap?

  Kepada Siapa Aku Berharap?   Saudari-saudara terkasih, saya merasa tertarik untuk merenungkan ketidaktahuan atas pengalaman yang dialami. ...