Misdinar
Mungkin adik-adik, atau teman-teman di luar sana (bukan beragama katolik)
tidak mengerti apa itu misdinar dan apa tugasnya? Lalu bedanya apa misdinar dan
dengan akolit? Adakah syarat atau ketentuan siapa saja yang boleh menjadi
misdinar? Apakah misdinar perlu dilantik? Semangat apa yang perlu dimiliki oleh
para misdinar? Semua pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab satu persatu dalam
tulisan sederhana dan singkat ini.
Misdinar dan Tugasnya
Dalam perayaan ekaristi atau misa sering dilihat anak-anak yang kurang
lebih masih sekolah SD-SMA menggunakan pakaian khusus. Anak-anak ini berjalan
di depan pemimpin perayaan ekaristi, entah itu romo atau uskup. Mereka inilah
yang disebut misdinar atau putra-putri altar. Misdinar merupakan kata yang digunakan
dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa jerman, misdinar adalah messdiener yang
berarti pelayan perayaan ekaristi. Kalau dalam bahasa inggris yang sering
digunakan adalah altar servers atau
pelayan altar.
Misdinar ada yang laki-laki ada juga yang perempuan, sehingga dalam
bahasa inggris ini lebih sering dikatakan sebagai boys and grils to service at the altar. Hal yang perlu diperhatikan
adalah kata server atau service yang dipahami sebagai pelayan. Jadi dilihat
dari arti katanya, misdinar merupaka seorang pelayan. Dalam hal ini, meraka
adalah pelayan misa kudus. Akan tetapi pada prakteknya, misdinar tidak hanya
bertugas saat misa. Misdinar juga dapat bertugas dalam kegiatan liturgy dan
ibadat lainnya.
Sebagai misdinar, anak-anak perlu menyadari tugasnya. Tugas yang diemban
atau diterima sebagai misdinar ini merupakan tugas istimewa dan mulia. Hal itu
karena dalam perayaan liturgy gereja, selalu menuntut adanya keterlibatan atau
partisipasi dari umat. Partisipasi umat ini penting karena dengan partisipasi
umat dengan sadar, penuh dan aktif membuat tidak adanya one man show, karena Gereja memang tidak pernah menghendaki one man show dalam liturgy gereja.
Anak-anak dalam hal ini menjalankan amanat Gereja yakni ikut berpartisipasi
dalam kegiatan liturgy Gereja. Maka jelas, misdinar bukan hanya untuk rame-rame
tetapi bentuk keterlibatan dalam kegiatan liturgy Gereja. Untuk itu, anak-anak
sangat baik untuk ikut menjadi misdinar.
Tetapi perlu dipahami juga bahwa misdinar bukanlah pelayan’ dari romo.
Memang misdinar melayani romo yang memimpin misa, namun dalam perayaan ekaristi
atau misa, romo bertindak sebagai pemimpin ibadat. Lepas dari tugas itu,
anak-anak bukanlah pelayan romo secara prbadi. Ini yang hendak ditegaskan,
bahwa misdinar bukan pelan romo. Misdinar adalah pelayan Tuhan sebab dalam
perayaan ekaristi, Yesus Kristus sendiri yang hadir. Kehadirannya dalam rupa
roti dan anggur yang diterima oleh umat atau jemaat sebagai komuni suci.
Akolit
Akolit berasal dari kata Yunani yakni akoluthos
yang berarti pelayan atau murid. Akolit ini untuk menyebut para frater yang
telah dilantik. Pelantikan akolit untuk frater merupakan sebuah proses untuk
menjadi seorang imam. Dalam prosesnya itu, frater tidak hanya dilantik sebagai
akolit tetapi juga lector. Pelantikan frater sebagai akolit dan lector ini yang
nantinya dapat menjadi misdinar untuk melayani Paus saat perayaan ekaristi.
Dalam sejarahnya, sebelum Konsili Vatikan II, tugas dar akolit termasuk
tugas dalam pelayanan yang diterimakan dengan tahbisan rendah. Tetapi sejak
tahun 1972, Paus Paulus IV meniadakan tahbisan rendah. Tahbisan rendah diganti
dengan pelantikan untuk lector dan akolit
untuk para frater. Hingga menjadi salah satu tahap bahwa sebelum daikon dan
imam, frater harus dilantik terlebih dahulu sebagai lector dan akolit.
Inilah
yang membedakan misdinar dan akolit, meski sama-sama pelayan Tuhan tetapi
akolit merupakan frater (calon imam) yang sedang mempersiapkan diri menjadi imam.
Syarat menjadi Misdinar
Dari pengertian yang sudah dijelaskan tadi, setidaknya dapat memberi
gambaran tentang misdinar. Untuk syarat atau ketentuan siapa yang boleh menjadi
misdinar, sebenarnya tidak ada kriteria yang sangat khusus. Meski begitu,
anak-anak yang boleh menjadi misdinar adalah anak-anak yang sudah dibaptis dan
telah menerima komuni pertama. Biasanya, anak-anak telah dibaptis sejak masih
kecil. Anak-anak yang menerima komuni pertama adalah kisaran kelas IV SD. Dari
situ, anak-anak yang sudah boleh menjadi misdinar adalah anak-anak yang telah
berusia 9 atau 10 tahun sampai 17 atau 18 tahun (lulus SMA). Dalam situasi
khusus, ada misdinar yang telah lebih dari usia SMA. Kejadian seperti Ini
tentunya menimbang situasi dan kondisi tempat pastoral.
Laki-laki dan perempuan semua boleh menjadi misdinar, tidak dilarang. Hal
itu dinyatakan oleh Tahta Suci Vatikan tahun 2001, yang memberikan wewenang
bagi para uskup untuk memberikan izin bahwa perempuan boleh menjadi misdinar.
Meski begitu, perlu dipertahankan misdinar laki-laki dalam rangka panggilan
imamat.
Nah sudah jelaskan, siapa yang boleh menjadi misdinar dan apa
syarat-syarat menjadi misdinar. Yuk, adik-adik; laki-laki maupun perempuan,
beragama katolik, sudah dibaptis dan sudah menerima komuni pertama, bergabung
dengan misdinar yang ada di paroki masing-masing. Adik-adik memiliki peran
untuk berpartisi atau ikut serta dalam kegiatan Gereja.
Misdinar perlu dilantik?
Karena adik-adik akan bertugas atau memiliki peran dalam kegiatan Gereja,
adik-adik perlu dipersiapkan terlebih dahulu dengan adanya pertemuan. Pertemuan
ini menjadi sarana mengarahkan dan melatih para calon misdinar. Setelah selesai
pelatihan, dimungkinkan adanya rekoleksi
sehari atau dua hari. Masalah misdinar perlu dilantik atau tidak, dapat dibicarakan
dengan pastor paroki terkait.
Di sarankan, para calon misdinar sebaiknya dilantik. Pelantikan
dilaksanakan dalam perayaan liturgy Gereja. Pelantikan sebaiknya dilakukan
setelah homily. Sebaiknya, pelantikan dipimpin oleh pastor paroki. Inti upacara
pelantikan dapat berupa pemanggilan calon, doa berkat dari imam dan sebagai
simboli ada penyerahan pakaian misdinar kepada calon misdinar. Pakaian misdinar
yang telah diserahkan kepada calon misdinar tetap ditinggal di Gereja, tidak
perlu dibawa pulang sebagai milik pribadi.
Semangat atau Spritual para Misdinar
Adik-adik yang telah dilantik, kini resmi ikut ambil bagian dalam tugas
Gereja. Sebagai misdinar, adik-adik perlu tahu tanggungjawabnya sebagai
pelayan. Tidak perlulah berpikiran negative pelayan itu babu atau jongos. Pelayan
dalam Gereja memiliki arti melayani Tuhan. Misdinar juga berarti pelayan Tuhan.
Pelayan Tuhan itu perlu memiliki hidup sesuai dengan sabda Tuhan, karena itu
misdinar perlu juga membaca Kitab Suci, rajin ikut perayaan ekaristi (entah
tugas atau tidak), rajin mengaku dosa dan jika waktunya ada baiklah menerima
Sakramen Krisma yang diberikan oleh Uskup atau wakilnya. Tanggungjawab itu yang
perlu menjadi kesadaran adik-adik.
Sumber:
E. Martasudjita, Pr., Panduan Misdinar,
Yogyakarta: Kanisius, 2014.