Lidah Boleh Berbohong Gestur Tubuh Tidak
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga ia
membutuhkan orang untuk hidup. Hidup bersama orang lain itu memiliki hal yang
unik. Rasanya seperti permen nano-nano. Ada banyak rasa yang
didapatkan, bahagia, cemas, emosi, dll. rasa itu dapat menjadi pembelajaran
dalam hidup yang menjadikan kesadaran bahwa dalam kebersamaan kita beda satu
dengan yang lain. Kita juga dapat menemukan siapa saja yang tulus dengan kita dan
siapa yang tidak. Pokoknya tidak ada habisnya kalau mau belajar
dari hidup bersama.
Dalam hidup
bersama, kita pasti memiliki orang-orang yang dekat. Kedekatan akan membuat
kita tahu gerak ataupun gestur tubuh yang menunjukan ekspresi kemarahan,
kekecewaan, kebahagiaan, kebosanan, dll. kita akan tahu itu semua meski kadang
ketika ditanya bibir dapat berkata beda. Apalagi orang yang belajar psykologi
orang, rasa-rasa itu dapat tertangkap dengan mudah sehingga akan sulit untuk menyembunyikannya
dan memang pada dasarnya orang akan mengungkapkan rasa itu meski entah
bagaimana caranya.
Kebohongan memang
kadang enak untuk didengar. Kebohongan akan menjadi bom waktu yang siap
menghancurkan harapan orang yang dibohongi. Peristiwa seperti itu lebih sulit untuk
diterima daripada ketika dikatakan dengan jujur. Kejujuran terkadang menjadi sesuatu
yang sulit untuk diterima. Kejujuran menjadi kehancuran tetapi sesaat. Tapi dengan
kejujuran, orang menjadi tahu bahwa memang itulah kenyataannya. Kenyataan menjadi
pemikiran yang baru yang perlu diterima
sadar atau tidak. Kenyataan juga menjadi awal dari kebangkitan untuk terus maju
dan berjuang menerimanya. Dari situlah, orang akan lebih suka menerima
kenyataan hancur pada saat itu daripada dibohongi. Maka kejujuran mahal
harganya dan tidak semua orang memilikinya karena orang lebih senang dengan
diperlakukan dengan cara yang membahagiakan meskipun itu adalah kebohongan.
Yogyakarta
20 Mei 2020.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar