LEKTOR AKOLIT
Kita, orang-orang
katolik, tidak asing dengan istilah lector
akolit, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang tidak tahu, sama seperti
orang lain yang berbeda agama. Hal itu tidak mengapa, kita sama-sama belajar
untuk mengenal dan memahami bersama apa itu lector
akolit, apa tugasnya, apakah ada sejarahnya? Dari penjelasan itu, kita akan
mengetahui mengapa sampai sekarang lector
akolit masih ada. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan sederhana ini memberi
inspirasi untuk menjadi pembelajaran bersama.
Lektor
Lektor merupakan kata
yang berasal dari bahasa latin yakni lector
berarti pembaca. Istilah ini mengarah pada tugas khusus dalam liturgi Gereja
Katolik yang membacakan secara lantang Firman Tuhan yang ada dalam Buku Bacaan
(lektionarium) ataupun kitab suci.
Pembacaan dilakukan dari mimbar sabda. Hal itu dilakukan agar dapat didengarkan
dengan baik sehingga seluruh umat yang hadir dapat dengan mudah memahami
perayaan liturgy yang sedang dirayakan.
Sejarah
Berbicara tentang sejarah
lektor ini sudah ada sejak lama sekali bahwkan sejak Perjanjian Lama. Dalam
perjanjian lama, para lektor membacakan sabda Tuhan di sinagoga. Para lektor
membacakan sabda tuhan yang diambil dari kitab taurat dan para nabi. Lektor
berada di tengah umat dan membuka gulungan Kitab Suci dengan membacakannya
dengan lantang. Setelah selesai, lektor memberikan penjelasan singkat tentang
isi bacaan atau apa yang baru saja dibacakan.
Kebiasaan membaca Kitab
Suci dalam tradisi Kristen sudah ada sejak Gereja Perdana, zaman para rasul.
Namun terjadi perubahan memasuki abad ke-2, kebiasaan membaca Firman Tuhan
menjadi kebiasaan khusus bagi kaum klerus yakni mereka yang ditahbiskan; uskup,
imam dan diakon. Pada abad ke-5 kebiasaan ini hilang. Muncul kembali dan mulai
dipakai oleh anak muda yang tinggal di asrama uskup. Mereka mendapat pendidikan
khusus dan belajar membaca. Mereka yang belajar membaca firman Tuhan disebut
dengan kelompok Schola Lectorum. Pada
abad ke-6 dan 7, anak muda dari kelas Schola Lectorum mulai belajar secara
khusus pengetahuan dan ketrampilan music dan nyanyian sehingga pendidikannya di
sebut Schola Cantorum. Maka tugas membaca bukan lagi kewajiban bagi mereka.
Mereka yang memiliki kewajiban membaca adalaah subdiakon ataun daikon dalam
perayaan meriah.
Sekarang memasuki zaman
modern, zaman pasca konsili fatikan II yang telah memberikan pembaruan. Dalam
Ministeria Quaedam, lekrot sebagai pembaca firman Tuhan merupakan satu jenjang
tersendiri. Mereka harus dilantik sebagai lector sebelum mereka menerima
tahbisan daikon dan imam.
Tugas lector
Membaca bagian sejarah,
menjadi jelas apa tugas lector sebenarnya yakni membacakan Firman Tuhan untuk
umat yang hadir dalam perayaan Liturgy Gereja. Tetapi lebih dari itu, pemcasaan
firman Tuhan mengajak suatu keterlibatan dalam seluruh karya Roh Kudus untuk
membuka hati seluruh umat terhadap firman itu. Selain membacakan, pemberian
penjelasan secara singkat isi dari yang dibacakan, sekarang dapat dipahami
sebagai homily singkat. Pemberian penjelasan Firman Tuhan ini harus bergaung dan
memperbaharui sehingga memberi manfaat; pertobatan atau keterbukaan hati, yang
mengantarkan orang pada keselamatan yang Allah janjikan.
Akolit
Secara etimologi (akar
katanya), akolit berasal dari kata Yunani yakni akoluthein yang memiliki arti mengikuti. Dalam konteks liturgy,
akolot selalu dekat denganpemimpin liturgy dan bertugas membantu pemimpin
liturgy dalam perayaan. Awalnya, akolit memiliki tugas untuk membantu daikon
dalam perayaan liturgy. Pada saat Gereja berkembang pesat, para akolit, sebagai
pelayan khusus dalam liturgy, mulai melaksanakan tugas-tugas tertentu yang
secara tradisional menjadi tugas diakon.
Tugas dan sejarah
Tugas akolit diperkirakan
munucl pada zaman Pus Victor I (189-199). Paus Cornelius pada tahun 251
menyebutkan jumlah akolit yang ada ditujuh wilayah Roma ada 42 akolit. Santo Cyprianus
pernah mengungkapkan bahwa kelompok ini berada di Afrika Utara. Tugas mereka
terbatas pada membawa lilin bila injil dibacakan dan membantu pada saat korban
dipersembahkan. Mereka adalah pelayan pribadi uskup.
Akolit ini baru dikenal
luas di Gereja Barat (Roma) sesudah abad ke-9. Sejak abad ke-10, tugas
pelayanan ini diperkenalkan secara bertahap sebagai salah satu dari empat tugas
pelayanan liturgy yang sifatnya membantu imam.
Ketiga tugas lainnya adalah penjaga pintu, lektor, dan pengusir setan
(Exorcist). Konsili Trente (1545-1563) juga membahas tugas dari akolit sebagai
jawaban terhadap Protestantisme yang menolak sakramen imamat.
Tugas-tugas akolit
beragam, tetapi tugas pertamanya adalah mengurusi karya karitatif. Di Roma,
akolit sering memperoleh peran khusus dalam peryaan Ekaristi. Akolit mendapat
kepercayaan untuk menerima bagian Fermentum
yaitu mengambil pecahan hosti kudus yang telah dikonsekrasi dan dibagi-bagi
oleh Uskup atau Sri Paus. Mereka membawa Fermentum
itu ke gereja-gereja stasi di kota itu dan memberikannya kepada imam yang
sedang memimpin ekaristi agar dimasukkan ke dalam piala dan campur dengan
anggur kudus. Hal itu dilakukan sebagai tanda persatuan persaudaraan di antara
Paus dan umat beriman serta para imam di seluruh kita. Akolit juga dapat
mendampingi Paus untuk membawa sakramen krisma atau penguatan, dan
kadang-kadang, jika jumlah katekumenatnya banyak, mereka diizinkan untuk
melayani sakramen pembaptisan bersama dengan imam dan dikon.
Akolit awalnya memang
hanya melaksanakan tugas seperti yang sudah dituliskan dalam paragraph
sebelumnya. Ritus pelantikan (dalam Pontifikale Romawi) sebenarnya berasal dari
ritus Gealik awal abad ke-6. Ritus ini terdiri dari pelantikan pengusiran setan
dan pendoa. Calon yang membawa tangkai lilin dengan lilin yang tidak bernyala
dan kantong anggur kosong, symbol pelayanan. Menurut ritus ini, tugas akolit
adalah menyalakan dan membawa lilin untuk persembahan dan meyiapkan air dan
anggur untuk persembahan korban. Sekarang tugas ini umunya dilakukan oleh
koster.
Di zaman modern,
pelantikan Akolit tidak lagi fungsional seperti dahulu kecuali sebagai ritus
persiapan untuk pentahbisan. Konsili Trente memiliki harapan bahwa perlunya
dihidupkan lagi pelayanan pastoral akolit. Harapan konsili ini tidak tercapai.
Namun gerekan liturgy modern telah mengemukakan beberapa usulan konkret untuk
menyesuaikan tugas fungsional liturgis dari Akolit dengan kebutuhan pastoral.
Kini yang bertahan adalah upacara pelantikan Akolit sebagai satu tahap
menjelang tahbisan diakon dan imam.
Sekarang sudah sedikit
mengerti lector dan akolit setelah membaca tulisan ini. Semoga tulisan ini
menambah wawasan dan pemahaman kita bersama sehingga jika ada pemahaman yang
keliru dapat diarahkan kembali ke jalan yang seharusnya.
Cinta Kasih Pastoral, bahan untuk rekoleksi persiapan pelantikan lektor Akolit bersama Romo Mateus Joko Setyo Pr.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar