Minggu, 27 September 2020

Lektor Akolit

 LEKTOR AKOLIT

Kita, orang-orang katolik, tidak asing dengan istilah lector akolit, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang tidak tahu, sama seperti orang lain yang berbeda agama. Hal itu tidak mengapa, kita sama-sama belajar untuk mengenal dan memahami bersama apa itu lector akolit, apa tugasnya, apakah ada sejarahnya? Dari penjelasan itu, kita akan mengetahui mengapa sampai sekarang lector akolit masih ada. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan sederhana ini memberi inspirasi untuk menjadi pembelajaran bersama.

Lektor

Lektor merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yakni lector berarti pembaca. Istilah ini mengarah pada tugas khusus dalam liturgi Gereja Katolik yang membacakan secara lantang Firman Tuhan yang ada dalam Buku Bacaan (lektionarium) ataupun kitab suci. Pembacaan dilakukan dari mimbar sabda. Hal itu dilakukan agar dapat didengarkan dengan baik sehingga seluruh umat yang hadir dapat dengan mudah memahami perayaan liturgy yang sedang dirayakan.

Sejarah

Berbicara tentang sejarah lektor ini sudah ada sejak lama sekali bahwkan sejak Perjanjian Lama. Dalam perjanjian lama, para lektor membacakan sabda Tuhan di sinagoga. Para lektor membacakan sabda tuhan yang diambil dari kitab taurat dan para nabi. Lektor berada di tengah umat dan membuka gulungan Kitab Suci dengan membacakannya dengan lantang. Setelah selesai, lektor memberikan penjelasan singkat tentang isi bacaan atau apa yang baru saja dibacakan.

Kebiasaan membaca Kitab Suci dalam tradisi Kristen sudah ada sejak Gereja Perdana, zaman para rasul. Namun terjadi perubahan memasuki abad ke-2, kebiasaan membaca Firman Tuhan menjadi kebiasaan khusus bagi kaum klerus yakni mereka yang ditahbiskan; uskup, imam dan diakon. Pada abad ke-5 kebiasaan ini hilang. Muncul kembali dan mulai dipakai oleh anak muda yang tinggal di asrama uskup. Mereka mendapat pendidikan khusus dan belajar membaca. Mereka yang belajar membaca firman Tuhan disebut dengan kelompok  Schola Lectorum. Pada abad ke-6 dan 7, anak muda dari kelas Schola Lectorum mulai belajar secara khusus pengetahuan dan ketrampilan music dan nyanyian sehingga pendidikannya di sebut Schola Cantorum. Maka tugas membaca bukan lagi kewajiban bagi mereka. Mereka yang memiliki kewajiban membaca adalaah subdiakon ataun daikon dalam perayaan meriah.

Sekarang memasuki zaman modern, zaman pasca konsili fatikan II yang telah memberikan pembaruan. Dalam Ministeria Quaedam, lekrot sebagai pembaca firman Tuhan merupakan satu jenjang tersendiri. Mereka harus dilantik sebagai lector sebelum mereka menerima tahbisan daikon dan imam.

Tugas lector

Membaca bagian sejarah, menjadi jelas apa tugas lector sebenarnya yakni membacakan Firman Tuhan untuk umat yang hadir dalam perayaan Liturgy Gereja. Tetapi lebih dari itu, pemcasaan firman Tuhan mengajak suatu keterlibatan dalam seluruh karya Roh Kudus untuk membuka hati seluruh umat terhadap firman itu. Selain membacakan, pemberian penjelasan secara singkat isi dari yang dibacakan, sekarang dapat dipahami sebagai homily singkat. Pemberian penjelasan Firman Tuhan ini harus bergaung dan memperbaharui sehingga memberi manfaat; pertobatan atau keterbukaan hati, yang mengantarkan orang pada keselamatan yang Allah janjikan.

 

Akolit

Secara etimologi (akar katanya), akolit berasal dari kata Yunani yakni akoluthein yang memiliki arti mengikuti. Dalam konteks liturgy, akolot selalu dekat denganpemimpin liturgy dan bertugas membantu pemimpin liturgy dalam perayaan. Awalnya, akolit memiliki tugas untuk membantu daikon dalam perayaan liturgy. Pada saat Gereja berkembang pesat, para akolit, sebagai pelayan khusus dalam liturgy, mulai melaksanakan tugas-tugas tertentu yang secara tradisional menjadi tugas diakon.

 

Tugas dan sejarah

Tugas akolit diperkirakan munucl pada zaman Pus Victor I (189-199). Paus Cornelius pada tahun 251 menyebutkan jumlah akolit yang ada ditujuh wilayah Roma ada 42 akolit. Santo Cyprianus pernah mengungkapkan bahwa kelompok ini berada di Afrika Utara. Tugas mereka terbatas pada membawa lilin bila injil dibacakan dan membantu pada saat korban dipersembahkan. Mereka adalah pelayan pribadi uskup.

Akolit ini baru dikenal luas di Gereja Barat (Roma) sesudah abad ke-9. Sejak abad ke-10, tugas pelayanan ini diperkenalkan secara bertahap sebagai salah satu dari empat tugas pelayanan liturgy yang sifatnya membantu imam.  Ketiga tugas lainnya adalah penjaga pintu, lektor, dan pengusir setan (Exorcist). Konsili Trente (1545-1563) juga membahas tugas dari akolit sebagai jawaban terhadap Protestantisme yang menolak sakramen imamat.

Tugas-tugas akolit beragam, tetapi tugas pertamanya adalah mengurusi karya karitatif. Di Roma, akolit sering memperoleh peran khusus dalam peryaan Ekaristi. Akolit mendapat kepercayaan untuk menerima bagian Fermentum yaitu mengambil pecahan hosti kudus yang telah dikonsekrasi dan dibagi-bagi oleh Uskup atau Sri Paus. Mereka membawa Fermentum itu ke gereja-gereja stasi di kota itu dan memberikannya kepada imam yang sedang memimpin ekaristi agar dimasukkan ke dalam piala dan campur dengan anggur kudus. Hal itu dilakukan sebagai tanda persatuan persaudaraan di antara Paus dan umat beriman serta para imam di seluruh kita. Akolit juga dapat mendampingi Paus untuk membawa sakramen krisma atau penguatan, dan kadang-kadang, jika jumlah katekumenatnya banyak, mereka diizinkan untuk melayani sakramen pembaptisan bersama dengan imam dan dikon.

Akolit awalnya memang hanya melaksanakan tugas seperti yang sudah dituliskan dalam paragraph sebelumnya. Ritus pelantikan (dalam Pontifikale Romawi) sebenarnya berasal dari ritus Gealik awal abad ke-6. Ritus ini terdiri dari pelantikan pengusiran setan dan pendoa. Calon yang membawa tangkai lilin dengan lilin yang tidak bernyala dan kantong anggur kosong, symbol pelayanan. Menurut ritus ini, tugas akolit adalah menyalakan dan membawa lilin untuk persembahan dan meyiapkan air dan anggur untuk persembahan korban. Sekarang tugas ini umunya dilakukan oleh koster.

Di zaman modern, pelantikan Akolit tidak lagi fungsional seperti dahulu kecuali sebagai ritus persiapan untuk pentahbisan. Konsili Trente memiliki harapan bahwa perlunya dihidupkan lagi pelayanan pastoral akolit. Harapan konsili ini tidak tercapai. Namun gerekan liturgy modern telah mengemukakan beberapa usulan konkret untuk menyesuaikan tugas fungsional liturgis dari Akolit dengan kebutuhan pastoral. Kini yang bertahan adalah upacara pelantikan Akolit sebagai satu tahap menjelang tahbisan diakon dan imam.

Sekarang sudah sedikit mengerti lector dan akolit setelah membaca tulisan ini. Semoga tulisan ini menambah wawasan dan pemahaman kita bersama sehingga jika ada pemahaman yang keliru dapat diarahkan kembali ke jalan yang seharusnya.


Sumber:

Cinta Kasih Pastoral, bahan untuk rekoleksi persiapan pelantikan lektor Akolit bersama Romo Mateus Joko Setyo Pr.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepada Siapa Aku Berharap?

  Kepada Siapa Aku Berharap?   Saudari-saudara terkasih, saya merasa tertarik untuk merenungkan ketidaktahuan atas pengalaman yang dialami. ...