Kepada Siapa Aku Berharap?
Saudari-saudara terkasih, saya merasa tertarik untuk merenungkan ketidaktahuan atas pengalaman yang dialami. Saya mengajak kita bersama untuk melihat bahwa kita memiliki karakter, pengetahuan, perasaan, dll, yang berbeda, satu dengan yang lain. Karena itu, kita akan memberikan tanggapan atau respon yang berbeda pula terhadap setiap peristiwa yang terjadi.
Kita sekarang mengalami pandemi covid-19. Covid-19 memberikan efek atau dampak yang berbeda-beda terhadap kita. Mungkin ada yang terdampak sampai kehilangan anggota keluarga, mungkin juga ada yang menutup usahanya atau mungkin pula ada yang mengalami ketakutan berlebih sehingga membuat kita akhirnya kecewa, putus asa dengan pengalaman yang kita alami. Terlebih lagi, doa-doa kita rasanya tidak didengarkan, diabaikan oleh-Nya begitu saja. Di sinilah, kita bisa saja mencari cara-cara instan, tidak lagi percaya kepada-Nya dan pergi meninggalkan Allah.
Bacaan injil (Yoh 6: 60-69) kali ini memberikan inspirasi kepada kita untuk setia dan percaya kepada-Nya meskipun banyak pengalaman yang tidak dapat kita ketahui atau pahami. Kita dapat belajar dari para murid. Para murid dalam banyak pengalaman tidak mengerti dan memahami apa yang terjadi dalam hidup mereka, terlebih lagi akan ajaran yang diberikan oleh Yesus. Namun para murid tetap setia dan percaya kepada Yesus, yang diwakili oleh Petur yang berkata “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkaulah yang kudus dari Allah”.
Kita dapat belajar dari para murid bahwa ketidaktahuan atas pengalaman dan ajaran Yesus bukan menjadi penghalang untuk kita tetap percaya kepada-Nya. Hanya saja, maukah kita tetap membuka hati dan pikiran kita agar kita dapat menerima anugrah panggilan agar tetap setia kepada-Nya?